Sejarah Keindahan Masjid Merah Panjunan Cirebon

Bila dilihat dari luar, Masjid Merah Panjunan Ini sangat menarik perhatian, apalagi bagi orang yang baru pertama kali berkunjung ke Cirebon, jawa Barat. Jika dilihat sekilas warna bata yang merah hampir mendominasi keseluruhan bangunan yang berdiri pada tahun 1480 ini.

 

Bila dilihat dari luar, Masjid Merah Panjunan Ini sangat menarik perhatian, apalagi bagi orang yang baru pertama kali berkunjung ke Cirebon, jawa Barat. Jika dilihat sekilas warna bata yang merah hampir mendominasi keseluruhan bangunan yang berdiri pada tahun 1480 ini.

Tidak perlu berlama-lama lagi, bagi kalian yang ingin tahu tentang masjid ini mari langsung kita simak keindahan Masjid Panjunan ini.

 

 

Walisongo

Walisongo
Walisongo

Owh ya sedikit tentang Walisongo, meraka adalah sosok penyebar agama Islam ditanah Jawa. Mereka menyebarkan agama Islam pada abad ke 14.

 

Mereka tinggal dan menyebarkan agama Islam di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yakni Tuban-Lamongan-Gresik-Surabaya di Jawa Timur, Muria-Kudus-Demak di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.

 

Di Cirebon sendiri salah satu yang menyebarkan agama islam adalah Sunan Gunung Jati

 

Syarif Hidayatullah atau yang biasa dipanggil Sunan Gunung Jati, beliua lahir sekitar 1450 M, Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya Wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa Barat yang sekaligus menjadi guru bagi Pangeran Panjunan ini.

 

Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati

 

 

Sejarah Masjid Merah Panjunan

Masjid Panjunan atau Masjid Merah Panjunan ini merupakan salah satu masjid yang ada di Kota Cirebon, yang tepatnya berada di Desa Panjunan, Lemahwungkuk, Cirebon. Masjid yang umurnya sudah sangat tua ini didirikan oleh Syarif Abdurrahman atau yang biasa disebut Pangeran Panjunan pada tahun 1480.

 

Pangeran Panjunan adalah keturunan Arab yang memimpin sekelompok imigran dari Baghdad, yang kemudian menjadi murid dari salah satu Sunan, yakni Sunan Gunung Jati. Masjid Merah Panjunan terletak disudut jalan di Kampung Panjunan, kampung dimana para penduduknya banyak yang menjadi pengrajin keramik, tembikar atau jun.

 

Mengapa di Kampung Panjunan para penduduknya banyak yang menjadi pengrajin keramik ? Dalam catatan sejarah yang mengacu pada Babad Tjerbon, sang pangeran dan keluarganya ternyata mencari nafkah dengan membuat keramik. Hingga sekarang, keturunannya masih memelihara tradisi kerajinan keramik itu, walau kini lebih menjadi tujuan spiritual ketimbang tujuan komersial.

 

Masjid Panjunan yang semula bernama Mushala Al-Athya namun dikarenakan bata merah yang dijadikan sebagai pagarnya membuat masjid ini lebih dikenal dengan sebutan Masjid Merah Panjunan oleh masyarakat sekitar. Sebenarnya masjid ini hanya tajug atau mushola yang sederhana, namun karena tempat masjid ini berdiri yang menjadi tempat bertemunya para pedagang yang berasal dari berbagai suku bangsa, Pangeran Panjunan akhirnya berinisiatif untuk mendirikan mushola tersebut menjadi masjid yang didalamnya terdapat perpaduan agama dan budaya sebelum islam, yakni Hindu – Budha.

 

Masjid Merah Panjunan kini juga telah dicatat sebagai benda cagar budaya.

 

Catatan tersebut juga mengatakan bahwa, selain menjadi tempat untuk beribadah, masjid ini juga dipakai oleh Wali Songo untuk bermusyawarah dalam menyiarkan agama Islam di daerah Cirebon dan sekitarnya. Masjid yang konon dibuat hanya dalam waktu semalam ini bisa dibilang lebih mirip surau karena ukurannya yang kecil. Biasanya pada bulan Ramadhan sering menjadi puncak kemeriahan, ketika masyarakat, baik itu dari dalam maupun luar kota, asik berburu takjil dan hidangan buka puasa, berupa Gahwa atau kopi jahe khas Arab.

 

Pasti banyak yang bertanya-tanya, bagaimana masjid ini penuh dengan ornamen yang bernuansa Tionghoa. Seperti, dinding nya yang dihiasi piring-piring keramik asli Tiongkok.

 

Piring Keramik Menghiasi Dinding Masjid
Piring Keramik Menghiasi Dinding Masjid

 

Menurut sebuah legenda piring keramik itu adalah bagian dari hadiah kaisar China saat Sunan Gunung Jati mempersunting Tan Hong Tien Nio putri sang kaisar.

 

Vihara Dewi Welas Asih, sebuah wihara kuno yang berdiri tak jauh dari masjid dengan dominasi warna merah yang mencolok menjadi bukti adanya hubungan budaya dengan Tiongkok sejak zaman para Wali Songo.

 

 

Arsitektur Masjid Merah Panjunan

Bangunan lama dari mushala ini sebenarnya hanya berukuran 40 meter persegi saja, namun karena ingin dibangun menjadi masjid kemudian berubah ukuran menjadi 150 meter persegi. Pagar Kutaosod yang terbuat dari bata merah setebal 40 cm dan tinggi 1,5 m yang mengelilingi kawasan masjid, dibangun oleh cicit Sunan Gunung Jati yaitu Panembahan Ratu Pada tahun 1949.

 

Sejarah Keindahan Masjid Merah Panjunan Cirebon
Sejarah Keindahan Masjid Merah Panjunan Cirebon

 

Atap genteng tanah hitam yang sampai saat ini masih terjaga keasliannya menjadi salah satu keunikan lain dari bangunan masjid ini. Sayangnya, karena ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab, pada bagian pagar tembok masjid beberapa keramik sudah ada yang diambil.

 

Bila kita telisik lebih jauh ada makam di salah satu sisi masjid yang diberi pagar, namun belum diketahui dengan jelas makam sipapa itu. kita juga bisa menemukan sumur yang dalamnya sekitar tiga setengah meter yang dijadikan mata air sebagai keperluan masjid dan masyarakat sekitar.

 

Sekian artikel dari saya tentang Sejarah Keindahan Masjid Merah Panjunan Cirebon serta sedikit tentang Walisongo, semoga bermanfaat dan menjadi salah satu referensi wisata religi bagi kalian yang ingin berkunjung ke Cirebon.